Jum'at, 09/11/2007
JAUH sebelum Pemilu 2009, kondisi politik di Tanah Air mulai hangat. Bahkan, politik di daerah membara seiring dengan rangkaian pelaksanaan Pilkada. Berbagai kekuatan politik dan elemen di dalam masyarakat mulai melakukan aneka manuver yang kadang terkesan ”liar”, sulit dibaca, dan tak mudah ”dipercaya”. Sejumlah tokoh nasional dan lokal, baik secara langsung maupun tidak langsung, bahkan mulai berbenah dan mendeklarasikan diri untuk maju menjadi calon Presiden RI mendatang.
Siapa pemimpin masa depan Indonesia yang ideal, pemimpin yang kita cari dan kita butuhkan? Mengenai kriteria, tentunya mudah disusun. Akan tetapi, tidak mudah mendapatkan tokoh pemimpin yang memenuhi kriteria tersebut.
Ada kelompok yang menginginkan pemimpin Indonesia masa depan, khususnya Presiden, berasal dari kalangan muda. Ada yang menginginkan tetap dipegang oleh generasi ”senior” atau tua yang dinilai ”matang”,meski tidak ada jaminan yang tua selalu matang.
Namun, ada pula yang menginginkan pemimpin Indonesia masa depan itu merupakan gabungan keduanya. Sejujurnya, saat ini bangsa kita masih sulit mempresentasikan tokoh-tokoh muda yang berpotensi ”lolos” dalam persaingan dan percaturan politik kepemimpinan Republik tercinta ini. Mengapa?
Pertama, minimnya dukungan partai-partai politik terhadap tokoh-tokoh muda, meski kita punya banyak tokoh muda yang potensial.
Kedua, masih banyak partai politik yang berusaha mempertahankan status quo, keengganan menyerahkan pucuk pimpinan kepada kelompok muda.
Ketiga,dalam pergolakan demokrasi politik di Tanah Air kita sekarang, dukungan finansial saat kampanye sangat menentukan keberhasilan lolosnya seorang calon pemimpin, termasuk menjadi Presiden, dan ini tidak mudah diperoleh tokoh muda Indonesia.
Partai politik dibentuk untuk mengaktifkan dan memobilisasi kepentingan rakyat, menyuarakan kepentingan rakyat, memberikan kompromi terhadap persaingan pendapat, serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan politik. Namun pada kenyataannya, partai politik yang ada saat ini belum sepenuhnya merepresentasikan kepentingan rakyat.
Parpol lebih banyak memperjuangkan kepentingan elite dan kelompoknya sendiri ketimbang memperjuangkan kepentingan rakyat. Tak heran jika kondisi ini kemudian menyebabkan kepercayaan publik terhadap banyak parpol cenderung turun.Karena itu,partai politik harus segera mengubah paradigma tersebut.
Dalam kondisi seperti ini, sulit bagi kalangan muda tampil menjadi pemimpin, baik menjadi Presiden ataupun memimpin di daerah.Sebab, untuk saat ini dan beberapa tahun ke depan,pemimpin memerlukan dukungan partai politik. Meski demikian,tak ada alasan,tokoh muda Indonesia harus bekerja lebih keras, mempersiapkan diri dengan baik untuk bertarung dalam kancah kepemimpinan nasional.
Presiden berusia 40-an tahun,usul salah satu tokoh nasional kita. Ya bisa saja,kenapa tidak. Yang muda biasanya identik dengan idealis, punya prinsip yang kuat,komitmen yang tinggi, tak gampang goyah, serta berani menghadapi risiko. Ini sebetulnya yang dibutuhkan bangsa Indonesia sekarang dan masa depan.
Hal-hal yang kini belum dimiliki para pemuda harus segera diraih. Hal-hal yang masih lemah harus segera diatasinya. Kini, wacana agar Presiden berasal dari kalangan muda sudah ada.Potensi pemuda untuk menduduki posisi itu juga sangat memadai. Yang belum meyakinkan untuk kita punya adalah ”kendaraan politik” bagi mereka!.(*)
VITA ALWINA DARAVONSKY BUSYRA
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia
Jumat, 30 November 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar