Jumat, 30 November 2007

SUARA MAHASISWA, Pemanasan Global, di Mana Mahasiswa?

Kamis, 22/11/2007

KONFERENSI Perubahan Iklim PBB (United Nations Framework Conference on Climate Change/UNFCCC) yang akan diselenggarakan pada 3–14 Desember 2007 di Bali nanti merupakan momentum yang sangat penting bagi Indonesia sebagai tuan rumah dalam upaya mengatasi bersama perubahan iklim (climate change) dunia.

Dalam forum sangat khusus itu Indonesia akan membawa tujuh agenda penting untuk dibahas bersama, yaitu adaptasi, mitigasi, mekanisme finansial, pengembangan teknologi dan kapasitas, clean development mechanism (CDM), pengurangan deforestasi (perusakan hutan), serta langkah-langkah bersama ke depan pasca-2012, setelah Protokol Kyoto berakhir.Sebagai catatan,Amerika Serikat dan Australia adalah dua negara yang memproduksi emisi dalam jumlah besar, akan tetapi tidak menandatangani Protokol Kyoto.

Indonesia sebagai negara kepulauan, yang memiliki lebih 17.000 pulau dan terletak di daerah khatulistiwa, akan mengalami dampak paling buruk akibat perubahan iklim dunia. Perubahan iklim itu disebabkan oleh meningkatnya emisi gas, penggundulan hutan, serta efek rumah kaca. Es akan mencair di kutub. Salju-salju abadi akan berkurang. Ini mengakibatkan air laut meningkat dan pulau-pulau Indonesia terancam tenggelam.

Selain itu, pemanasan global mengakibatkan iklim tidak menentu. Badai dan topan mengancam, berbagai penyakit menyebar, ribuan spesies dalam waktu singkat mengalami kepunahan dan berbagai daerah mengalami krisis air. Musim tanam juga terganggu dan pertanian terancam gagal. Kini kita mulai merasakannya secara langsung, kekeringan dan hujan yang menerpa berbagai kawasan di Indonesia, terkadang di luar perkiraan.Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pemanasan global adalah masalah kita semua.Tidak hanya kita yang tinggal di negara kepulauan, tetapi semua wilayah permukaan bumi. Karena perubahan iklim menjadi masalah kita bersama,semua pihak harus terlibat mengatasinya. Jika kita mau menyelamatkan bumi dan segala kehidupan di atasnya, tidak ada cara lain, sekarang kita harus bertindak menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Kita perlu solidaritas global.

Saat ini, tantangan yang berat dihadapi Indonesia adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya pemanasan global. Pemerintah belum cukup berbuat. Masih banyak bangsa Indonesia yang tidak paham akan akibat pemanasan global. Masyarakat juga belum mempunyai pengetahuan cukup tentang cara-cara mengatasinya.

Kenapa pemerintah tidak memulai sosialisasi pemanasan global dengan cara melakukan program masuk kampus? Kita mahasiswa siap membantu pemerintah melakukan sosialisasi upaya antisipasi pemanasan global kepada masyarakat.(*)
VITA ALWINA DARAVONSKY BUSYRA
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Tidak ada komentar: